Trip Belitong – day1

Hari untuk kami berangkat berlibur akhirnya tiba juga. Berhubung kami mendapatkan jam penerbangan yang cukup siang, maka jam 09.00 pagi pun kami baru keluar dari rumah menuju bandara. Tapi, tetep yaaa…. Sampai bandara pun sudah tergolong mepet banget, jam 10.30 (tepat 1 jam sebelum waktu boarding) kami baru tiba di Bandara Soekarno Hatta. Awalnya aku sempat berkeinginan untuk bisa breakfast dulu disana,.. Tapi apa mau dikata, ternyata sampai di sana pun sudah mepet banget. Akhirnya cukup beli snack di KFC dan buru2 lah kami check in.

Proses check in cukup cepat dan tidak berkendala sedikitpun, sempat beli makanan lagi sepanjang perjalanan menuju ruang tunggu dan ternyata memang betul, tidak lama setelah kami menunggu waktu boarding pun tiba. Perjalanan yang kami tempuh di udara hanya memakan waktu kurang dari 1 jam saja. Perasaan baru saja merem karena terkantuk-kantuk tetiba sudah ada panggilan “Cabin Crew, Prepare for landing……” Hehehehhee,… kata2 ini yang selalu diingat dan ditirukan oleh Qnan.

Perasaan bahagiaaaaaa banget begitu bisa menginjakkan kaki di tanah Belitong. Sudah membayangkan betapa indahnya laut dan pemandangan alam Belitong. Apalagi ditambah siang itu begitu terik,,…… Kamipun berpikir pasti hari hari kami di Belitong akan secerah hati kami bertiga ❤ ❤ ❤ ihiiiiks,….

Setiba di Bandara Tanjung Pandan pun kami sudah dijemput oleh tour guide kami “Bang Echa” dialah yang akan membawa kami keliling Belitong sampai dengan hari Minggu nanti saat kami kembali ke Jakarta. Pertama kali yang kami tuju, apalagi kalo bukan makan siang karena kebetulan waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang dan perut jelas sudah terasa sangat lapar. Mie Atep adalah tujuan kami pertama, sudah membayangkan nikmatnya mie khas Belitong ini yang segar dan menggoda. Ditambahkan dengan minuman segar ‘jeruk kunci’ khas Belitong yang juga sangat menggoda. Oya, di tempat ini juga aku dan Qnan baru merasakan Ketam Isi (kepiting yang diambil dagingya, dibumbui dan dimasukkan kembali ke cangkang kepitingnya) Ish,….Ish,… Ish,… rasanya endesssss bangget!! Saking crunchy-nya cangkang kepiting itu, awalnya aku makan secangkang-cangkangnya! Wakakakkakkaakkk………… Tapi lama2 langsung sadar diri, kok si pelayan di restaurant itu menatap aku dengan aneh. Rupanya, caraku makan Ketam isi yang aneh!! 😀

Selesai makan, kamipun langsung meluncur ke hotel untuk check in. Hotel yang kami pilih adalah MaxOne Hotels at Belstar Belitung. Waw,..rupanya lokasi hotel termasuk tengah kota, tidak terlalu jauh dari pusat kota Tanjung Pandan dan itu sangat mengasyikkan.Cuaca kota Tanjung Pandan mulai meredup, sepertinya hujan akan segera turun. Hiksss,… Qnan mulai panik karena takut tidak bisa melanjutkan jalan-jalan sore nanti 🙂 Maklum lah, saking bahagianya dia, jadi pengennya segera jalan-jalan, jalan -jalan dan jalan-jalan…

Akhirnya hujan pun benar-benar turun dengan cukup deras begitu  kami memasuki kamar hotel, dilanjut shalat, istirahat leyeh-leyeh sebentar sambil menunggu hujan mereda dan akhirnya kamipun memanggil kembali Bang Echa untuk jemput kami jalan-jalan sore ini. Waktu menunjukkan pkl 16.00 saat kami keluar hotel dan hujanpun sudah berhenti. Tujuan kami adalah Tanjung Pendam sampai dengan matahari terbenam nanti, tapi sayangnya moment sun set tersebut tidak kami dapatkan karena cuaca yang masih mendung.

1478176477401

Memutuskan untuk meninggalkan Tanjung Pendam, bergeser untuk wisata kuliner. Yippieeeeee….. ini yang ditunggu-tunggu selalu disetiap acara jalan-jalan kami. Berhubung kota Tanjung Pandan (mungkin lebih tepatnya pulau Belitong) ini banyak kedai kopi dan ada satu tempat ngopi yang katanya sih ngehitz banget. Iya, namanya Kedai Kopi Tong Dji. Tidak perlu berpikir panjang dan lama, mas Bayu dan aku langsung oke begitu diajak Bang Echa untuk ngopi2 dulu…. Kecuali Qnan yang agak tidak bahagia (hahahhhaaa..) karena yang terbayang dibenaknya adalah ibu dan ayahnya ngopi dan dia harus bengong. Begitu tiba di lokasi, kamipun langsung WoW!! Tempatnya tidak terlalu bagus, tapi justru sangat ‘authentic’. Sebetulnya Kedai Kopi Tong Dji ini sudah dijual secara franchise oleh pemiliknya, dan mereka rata-rata membangun dengan tempat yang jauh lebih bagus dan kekinian. Tapi justru bagi kami,  tempat yang asli begini yang sangat berseni dengan duduk menghadap jalan, bangku dan meja kayu yang sangat sederhana tapi tetap saja nyaman. Pantas saja (menurut cerita Bang Echa), orang betah berlama-lama nongkrong untuk ngobrol dan minum kopi di kedai ini. Selain memang seperti sudah budayanya orang Belitong, kedai kopi adalah tempat mereka bertukar informasi. Oiya, akhirnya Qnan pun bisa ikut menikmati segelas es susu coklat yang cukup enak 🙂

1478176457981

Selepas waktu Maghrib kamipun mulai bergeser untuk mencari tempat makan malam yang lagi-lagi harus khasnya kota ini. Pilihan pun jatuh ke Rumah Makan “Belitong Timpo Duluk” Lagi lagi kami dibuatnya WoW!! Tempatnya asli banget bekas rumah tinggal dengan diisi oleh berbagai macam koleksi barang-barang tempo dulu yang lucu-lucu. Begitu masuk tempat ini, langsung pesan makan ‘Dulang Set’ jadi di menu ini sudah lengkap ada beberapa jenis lauk pauk dan sayurnya untuk porsi kami ber-3 dan yang pasti menu yang wajib coba yaitu Ikan Gangan sudah termasuk ada di dalam menu ini. Sambil menunggu makanan selesai disiapkan, kamipun berfoto-foto sepuasnya. Tempatnya sangat ‘Instagramable’ 🙂 Cantik sekali untuk yang suka berfoto dengan suasana tempo dulu.

1478176458172

Selesai santap makan malam kamipun memutuskan untuk menyudahi acara jalan-jalan kami hari ini. Badan sudah mulai terasa lelah, tapi perut kenyang dan hati bahagia, jadilah kami ingin segera kembali ke hotel dan istirahaaaatttt. Eh, tapi kenyataanya begitu kami tiba di hotel, Qnan masih minta untuk berenang dulu. Hahahhaaa, yo wes lah, silahkan berenang Qnan… Ibu  dan ayah pun leyeh-leyeh menunggumu di pinggir kolam.

Malam pun sudah menunjukkan pukul 21.00 dan kami memang sudah harus betul-betul istirahat. Karena besok pagi kami janjian dijemput Bang Echa jam 9 pagi dan tujuan kami adalah Belitung Timur. See you!!!

 

 

 

Advertisements

KL – Penang yang kukenang… @ Day-1

Kali ini liburan kami akan menuju negeri tetangga kita sendiri, Malaysia 🙂 Berangkat dari rumah pagi jam 05.30 WIB, padahal flight baru jam 08.30. Tapi jelas saja alasan kami saat itu karena malas terburu-buru, dengan harapan setibanya di Bandara masih bisa breakfast ataupun bersantai-santai dulu. Masih tetap sama seperti liburan sebelumnya, kami masih setia dengan menggunakan Air Asia, pesawat berbudget rendah 🙂 Tapi, untuk saat ini kok kami justru malah merasa lebih nyaman memasuki Terminal 3 di bandara Soekarno Hatta ini, dibandingkan harus memasuki Terminal 2 yang sangat terasa sesak juga cenderung kumuh. Mungkin karena Terminal 3 masih baru ya…?? Menurut info yang aku dapat, Terminal 3 ini nantinya akan menjadi terminal khusus untuk penerbangan berbudget rendah. Semoga saja kebersihannya masih bisa tetap terjaga seperti saat ini.

Setelah selesai check in, kamipun berniat untuk meng’up grade bagasi untuk kepulangan dari KL menuju Jakarta, dengan alasan   pasti bawaan akan lebih banyak dan jauh lebih berat (karena pasti ada oleh-oleh) dibandingkan keberangkatan kami dari Jakarta ini. Dengan menambah berat  maksimal menjadi 30kg aku harus menambah 150ribu, is better lah….. dibanding aku harus menambah bagasi on the spot. (Ini saran dari petugas Air Asia-nya langsung lho, saat tadi kami check in..)

Setelah kami selesai di urusan check in dan up grade bagasi, langsung menuju ruang tunggu. Sebelumnya, mampir dulu ke Circle K untuk beli minuman juga roti, berhubung di terminal 3 ini ternyata tidak ada restaurant yang mengundang minat kami. Karena memang hanya ada 1 restaurant  dan itupun aku pernah mendapatkan pelayanan yang kurang baik, jadi rasanya enggan untuk masuk kesitu lagi.. (restaurant apa hayo,…?? Yang pernah masuk ke Terminal 3 pasti bisa langsung nebak karena  memang hanya 1-1 nya restaurant yang ada di lantai dasar) 🙂

Kami lanjutkan menuju ruang tunggu, dengan melewati bagian imigrasi, stempel Paspor lancar. Tapi begitu kami memasuki bagian pemeriksaan barang, ada 1 travel bag yang saat itu memang aku tenteng karena isinya baju ganti Qnan juga printilan lainnya. Duh, lagi2 aku membuat suatu kesalahaan besar kali ini…. Padahal bukan kali pertama untuk aku melakukan perjalanan internasional, dimana aturan yang ada adalah tidak boleh membawa cairan lebih dari 100ml. Ternyata (betul2 tanpa sadar), aku memasukkan Body Lotion’ku di travel bag ini…. Hwaaaaa…..:'(( Petugas langsung meminta kami untuk meninggalkan (alias dibuang) atauuuuuu…kami susulkan masuk kedalam koper yang akan masuk ke bagasi. Hiks…. hiks…. pilihan yang sama beratnya, karena membayangkan untuk kembali ke tempat check in saja sudah cape’ tapi kalo harus dibuang pun jelas lebih sayang…… karena harganya pun tidak lebih murah dari  airport tax yang tadi kami bayarkan. Akhirnya setelah kasak kusuk sama mas Bayu :), aku putuskan untuk aku yang lari mengejar si koper yang semoga saja belum masuk ke bagasi pesawat. Yang pada akhirnya si botol Body Lotion pun bisa aku susulkan masuk ke dalam koper :)) pelajaran yang sangat berharga *untuk diingat2 kalo mau melakukan penerbangan internasional*

Akhirnya kamipun menaiki pesawat, penerbangan kali ini betul2 on time tanpa terlambat semenit’pun. Diatas pesawat kami disambut oleh pramugari asal Malaysia, jadi berasa sudah sampai di KL. Dari penyampaian informasi penerbangan pun sudah menggunakan bahasa Melayu Malaysia, bahkan saat kami bertransaksi di atas pesawat’pun sudah menggunakan mata uang Ringgit. Adaaaa saja yang selalu ingin dibeli Qnan diatas pesawat 🙂 yang sepertinya juga gak penting2 banget dibutuhkan, tapi ya namanya anak2 selalu terkesan dengan hal-hal baru. Perjalanan udara kami memerlukan waktu kurang lebih 1 jam 40 menit, dengan perbedaan waktu antara Jakarta dan Kuala Lumpur 1 jam lebih cepat.

Begitu turun dari pesawat, agak kaget juga melihat Bandara’nya yang ternyata hhhmmm…sangat standard, atau bahkan dibawah standard ya? heheheee… Yah, namanya juga LCCT (Low Cost Carrier Terminal) jadi ya memang bandaranya untuk pesawat – pesawat murah saja. Perjalanan dari turun pesawat sampai tempat pengambilan bagasi ternyata cukup jauuuuhhh….. 🙂 tapi, tetap saja dinikmati dong namanya juga berpetualang, hhahahahhaa.. Sebelum kami mengambil bagasi, kamipun harus kembali antri untuk pemeriksaan imigrasi yang ternyata tidak terlalu ketat, juga gak terlalu banyak tanya. Berbeda dengan pemeriksaan imigrasi yang pernah kami rasakan di Singapore, yang terkesan lebih tertib dengan pertanyaan yang lebih detail. Kami bersamaan dengan orang-orang dari Bangladesh maupun India, dan mereka terlihat nyata datang ke Malaysia bukan untuk berwisata. Setelah selesai urusan keimigrasian, kamipun langsung mengambil bagasi. Keluar dari pengambilan bagasi langsung terlihat beberapa counter yang menjual ticket bus menuju KL Sentral. Di Counter yang bertuliskan Aerobus LCCT – KL Sentral, aku pun membeli 2 ticket dewasa dan 1 ticket anak. TIcket dewasa seharga 8.00 RM dan untuk anak seharga 4.00 RM, hehehheeee harga yang cukup murahlah untuk harga bus yang cukup nyaman juga dengan tujuan yang cukup jauh pula menuju KL Sentral. Perjalanan menuju KL Sentral memakan waktu +/- 1 jam, dengan kondisi jalan yang cukup lancar. Lagi2 dibuat kaget dengan tempat pemberhentian bus di KL Sentral yang terlihat kumuh, awalnya agak ragu-ragu. Betulkah ini yang dinamakan KL Sentral…? Tapi berhubung, semua penumpang turun akhirnya kamipun ikutan turun 🙂 (kebiasaan kalo di tempat baru, mengekor saja).

Setelah kami memasuki gedung KL Sentral, barulah terlihat apabila KL Sentral adalah pusatnya angkutan yang akan membawa kita kemanapun tujuannya. Baik dengan menggunakan LRT ataupun Rapid KL (bus kota). Oya, sebelum kami keluar dari KL Sentral, kami sempatkan terlebih dulu untuk makan siang (walaupun agak terlambat, karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 3 sore)

@ KL Sentral

@ KL Sentral

Akhirnya pilihan makan siang kami pun jatuh ke Restaurant Rasamas, mas Bayu memilih menu Nasi Lemak dengan tambahan Chicken Rice (doyan apa lapar mas..? ;p) sedangkan aku memilih menu favorit-ku Curry Laksa,hhmmmmm sudah langsung terbayang yummy’nya. Qnan jelas memilih menu yang standar anak-anak, Fried Chicken dengan Chicken Rice. Ternyata dari ke-3 macam menu yang kami pesan, tetap juaranya adalah….. Curry Laksa!! Mas Bayu pun menyesal kenapa gak pesan Laksa saja ya, karena ternyata Nasi Lemak yang diidolakan’nya pun tidak seenak yang dia bayangkan 🙂 Tapi,.. ya sudahlah, bisa menjadi bahan referensi bagi kami kalo mau cari Nasi Lemak yang enak jangan cari di dalam restaurant, justru nasi lemak emper jalanan akan jauh lebih nikmat!

Setelah perut kenyang, kami pun bersiap untuk keluar dari KL Sentral. Tujuan kami adalah Apartemen Nomad Sucasa di Jl. Ampang, kebetulan ini adalah tempat saudara sepupuku tinggal. Jadi selama di Kuala Lumpur, kami akan tinggal disini. Sebelumnya kami membeli ticket taxi terlebih dulu seharga 16.00 RM. Setelah ticket kami dapat, kami pun mendatangi supir taxi yang sudah menunggu di luar, kamipun menyebutkan tujuan kami. Dan pertanyaan yang keluar dari si supir adalah, ” Sudah tahu jalannya..??” Damn!! Ternyata Si Supir Taxi yang nampak jelas keturunan India itupun gak tau jalan, tapi masih lebih bagus si supir ini ketimbang kebanyakan supir taxi di Indonesia ;p nampak jelas dia berusaha untuk menghubungi teman-temannya agar dapat menemukan alamat tersebut. Aku sih duduk tenang saja, gak takut argo melonjak karena dibawa putar2 ndak jelas, wong kita sudah bayar duluan. Masalah nanti muter2 itu kan resiko si supir taxi yang ‘kuper’ karena tidak tau jalan, heheheeee…..Untung saja, kamipun tidak dibawanya untuk keliling KL. Karena ternyata Jl. Ampang yang aku tuju itu pusat perkantorannya KL, yaaaa.. semacam Kuningan lah kalo di Jakarta, karena disekitar situ hanya ada kantor, mal, hotel juga apartemen. Cukup mudah sebetulnya untuk mencari alamat tersebut. Wah, berarti jelas si supir tadi yang kurang pergaulan.

Malam pertama kami di KL, kami habiskan untuk berjalan disekitaran Suria KLCC, termasuk makan malam disana dan diakhiri dengan berfoto dengan background Twin Towers yang tersohor itu,…..

Twin Towers

Twin Towers


Pentingnya “Jalan-jalan”

‘Jenuh’.. Bagaimana tidak? Setiap hari kita melakukan rutinitas yang benar2 tidak bervariasi. Bangun pagi, siapkan kebutuhan Qnan juga ayahnya. Antar Qnan sekolah, langsung pergi ke tempat kerja. Sampai di kantor ya ketemunya sama kerjaan yang itu2 juga. Kalau hasil kerja kita selalu “ok” dimata orang-orang sekitar kita sih no problem,.. Ada saatnya pasti kerjaan kita kena ‘teguran’ atau mendapat ‘keluhan’ dari orang-orang itu, baik atasan, rekan kerja atau bahkan para customer kita. Tapi, yaaaa…. itulah seninya bekerja 🙂 Yang pasti, di akhir bulan kita mendapatkan ‘hasil’nya, meskipun terkadang kita merasa kurang puas karena tidak bisa mengaktualisasikan diri kita secara penuh.

Nah,… sebab itu penting banget yang namanya ‘jalan-jalan’. Jalan-jalan pergi ke mal? halahhh.. cuma ngabisin duit aja, sedikit sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Malah mungkin sama sekali gak ada yang bisa diambil.. Apalagi jalan-jalannya sama anak, malah ngajarin anak konsumtif!!! Makanya, kalau aku sih milih jalan-jalan itu ya benar2 jalan-jalan ke suatu tempat yang ‘hidup’, bisa melihat secara langsung culture yang berbeda, orang2 yang berbeda ataupun kebiasaan yang berbeda juga..

Jelas pilihannya ya jalan-jalan ke luar kota atau bahkan mungkin ke luar negeri. Dengan begitu kita bisa refreshing skalian ngajarin anak sesuatu yg mungkin sebelumnya belum pernah dia lihat sama sekali. Jelas bukan cuma buat anak,.. ayah ibu nya pun bisa skalian ‘study banding’ heheheee… Satu contoh, saat kita jalan-jalan ke luar kota biasanya kita bisa menemukan ‘bahasa’ yang berbeda dengan bahasa yang biasa kita dengar sehari-hari, begitu juga ‘perilaku’ dan ‘kebiasaan’ orang yang berbeda di setiap daerah. Menurutku itu seruuuuu… Seru untuk kita bahas, bisa kita ambil untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita apabila memang itu baik, sekaligus memberikan contoh langsung apabila memang itu tidak baik.

Oleh karena itu, paling tidak setiap 6 bulan sekali tentukan arah,.. Kemana kita akan pergi? Gak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Tapi, kalau untuk aku pribadi udah ada cara yang sangat efektif untuk supaya kita bisa jalan-jalan tetap dengan biaya yang ekonomis, tapi dijamin tetap aman dan nyaman.

Tentukan jauh-jauh hari tempat / kota mana yang akan kita tuju, cari tau mengenai apa saja yang menarik dari tempat yang akan kita tuju, cari tau juga cara yang paling mudah untuk mencapai tempat yang akan kita tuju, juga kemungkinan yang akan kita temui apabila kita membawa anak (yang notabene masih dibawah 10thn). Biasanya aku selalu melakukan hal ini setiap kali kami pulang dari ‘jalan-jalan’. Sehingga pekerjaan ‘mencari tau’ ini dapat aku lakukan -/+ 6(enam) sampai dengan 8 (delapan) bulan sebelum hari H 🙂 Tentu ini menjadi side job yang sangat meyenangkan untuk aku pribadi, di sela-sela waktu kerja atau di sela-sela weekend, kegiatan untuk browsing tempat dan segala macam printilannya, menjadi hiburan yang sangat menyenangkan.

Untuk transportasi dan akomodasi kita juga bisa tentukan dari awal, tentunya yang paling memudahkan dan aman untuk kita. Apabila jarak tempuh jauh (lebih dari 10 jam) biasanya kami memilih menggunakan pesawat. Pakai saja penerbangan dengan tarif murah (saat ini sudah banyak sekali ditemui maskapai penerbangan murah, tp tetap nyaman). Untuk akomodasi jelas kita bisa pilih budget hotel, dan akhirnya di kota tujuan 90% adalah jalan-jalan (bukan shoping) :)) Pasti menyenangkan!!

Bantimurung,….

Taman Nasional Bantimurung

Beberapa hari tinggal di Makassar rasanya kurang pas kalo kita belum mengunjungi Taman Nasional Bantimurung yang terletak di Kabupaten Maros, sekitar 40km dari kota Makassar. Siapa sih yang gak pernah dengar Bantimurung..? Yang katanya disana kita bisa menemui museum kupu-kupu juga air terjun nya yang indah.

Perjalanan kami mulai siang hari kira-kira pukul 11.00 waktu Makassar, karena sebelumnya kami memilih untuk mencari oleh-oleh dulu sebelum rasa malas muncul untuk berkeliling (yang menurut kami membuang waktu) hanya untuk mencari oleh-oleh. Karena setiap kali perjalanan ke luar kota, aku dan suamiku tidak terlalu ‘bernafsu’ untuk memburu oleh-oleh. Justru yang kami utamakan adalah dapat mengunjungi seluruh ‘icon’ yang ada di kota tersebut. Walau terkadang agak sulit untuk membagi waktu, karena mau nggak mau kami pun harus menyesuaikan dengan kemampuan fisik  Qnan dalam setiap perjalanan kami.

Tiba di Taman Nasional Bantimurung -/+ pukul 12.30, perjalanan lumayan panjang dengan ruas jalan yang agak sempit dan beberapa kali menemui perbaikan jalan. Begitu memasuki gerbang Taman Nasional disambut oleh patung kera besar juga gerbang yang tentu saja berbentuk Kupu-kupu yang sangat besar. Begitu turun dari mobil, kami bisa menghirup udara yang cukup menyegarkan. Sudah gak sabar untuk bisa segera melihat air terjun dengan kupu-kupu berterbangan bebas yang dapat kita nikmati setiap saat (ini menurut info yang aku dapat sebelumnya yaa….) 🙂

Tapi, begitu kami memasuki area Taman Nasional Bantimurung, sangat kecewa… Ternyata kenyataannya tidak seindah apa yang sudah aku bayangkan 😦 Saat itu aku membayangkan taman yang indah dan terawat, dihiasi kupu-kupu yang berterbangan dengan indahnya) Kenyataannya, yang aku temukan adalah sebuah taman yang cukup luas tapi gak terawat dengan baik, banyak sampah yang tidak dibuang pada tempatnya dan yang paling mengecewakan,… tidak satupun aku temukan kupu-kupu yang berterbangan dengan bebas. Yang paling kecewa tentu saja Qnan, karena dari rencana yang sudah kami susun dari Jakarta tujuan kami ke Bantimurung adalah untuk menikmati air terjun yang indah dengan dikelilingi oleh kupu-kupu yang  berterbangan dengan bebasnya. Beberapa kali Qnan bertanya dan tentu saja mendesakku untuk menemukan kupu-kupu yang dimaksud,.. Sampai akhirnya aku harus bertanya pada petugas yang ada, dan jawabannya adalah…. “Saat ini memang agak sulit untuk menemukan kupu-kupu berterbangan diwilayah sekitar taman juga air terjun, populasi mereka sudah bergeser karena semakin banyaknya pengunjung yang datang ke taman wisata ini”. Sedih sekali rasanya mendengar pejelasan dari bapak petugas ini… 😦

Setelah mendengar penjelasan itu, Qnan akhirnya mengajak untuk melihat museum kupu-kupu nya saja. Tapi, lagi-lagi…. kami dibuat kecewa. Museum kupu-kupu dalam keadaan tertutup dan terkunci, setelah kami kembali bertanya kepada petugas, jawabannya adalah karena petugas penjaga museum sudah pulang. OMG,…. bagaimana pariwisata kita akan maju dan dikenal dunia kalo’ caranya seperti ini 😦 Sangat kecewa tentu,.. karena semua yang ada dalam bayangan kami tidak dapat kami temukan satupun juga. Semoga ini hanya kami yang menemukan, tidak untuk di lain hari. Terimakasih untuk pengalamannya di hari ini….. Semoga kamidapat kembali di lain waktu, dengan keadaan yang sudah berbeda.

Air terjun Bantimurung

Gerbang Bantimurung

M A K A S S A R

Kali ini kami pergi liburan ke Makassar, lengkap dengan seluruh keluarga besar. Tentunya sangat menyenangkan, tidak terlalu merepotkan karena dari seluruh keluarga kami sudah tidak ada lagi yang memiliki baby.  Sehingga perjalanan liburan bisa kami lalui dengan lancar tanpa hambatan.

Aku dan keluarga berangkat dari Jakarta, karena 2 kakak’ku berangkat dari kota tempat tinggalnya masing-masing (Samarinda dan Yogyakarta) dan kami sepakat untuk langsung bertemu di Makassar saja. Kebetulan kakak iparku memang orang asli dari Makassar, sehingga selama liburan kami tidak lagi memikirkan akomodasi kami selama disana (tempat untuk kami menginap dan kendaraan yang akan kami gunakan selama disana pun sudah tersedia). Lumayan lah,… banyak mengurangi budget! 🙂

Berangkat dari Jakarta menggunakan Lion Air, pkl.11.30 WIB (yang kenyataannya harus mundur sampai dengan pkl. 13.30 WIB kami baru diterbangkan). Tiba di Makassar pkl.16.30 WITA, perjalanan yang lumayan lama dan tentu saja waktu yang sangat lama untuk yang menjemput kami setibanya di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar 🙂  Kami berangkat bertepatan dengan hari ulang tahun Qnan yang ke-6, karena liburan kami kali ini sekaligus sebagai hadiah ulang tahunnya.

Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dan lama (untuk ukuran perjalanan domestik), akhirnya keluar dari Bandara apalagi yang dicari kalo’ bukan tempat makan. Perut kelaparan, otak sudah membayangkan makanan khas kota Daeng ini.. Ternyata kami diajak ke suatu tempat di depan Benteng Fort Rotterdam yang terkenal itu, namanya Kampung Popsa. Untuk rasa dari makanan yang ada memang nilainya gak sampai di angka 7 (penilaian 1 – 10) ;p, tapi untuk suasana dan view yang kami dapatkan memang top abissss…. Sore-sore saat matahari tenggelam, sangat indah pemandangan yang dapat kami nikmati. Kebetulan kami duduk pas di tepi pantai, dengan model seperti dermaga resto ini memang sangat menarik perhatian para pengunjung karena terlihat dari tempat duduk yang paling diminati adalah tempat duduk outdoor.

Hari ini ditutup dengan menikmati makan sore kami di Kampung Popsa, karena besok masih banyak lagi rencana yang akan kami lalui. Menikmati keindahan Makassar mulai dari pantainya, makanannya dan juga tentu penduduk aslinya. Sampai ketemu besok lagi Daeng,..!

Pemandangan tepi pantai dari Kampung Popsa

Singapore (Part II-Last day)

Tanggal 21 April 2011, karena ini hari terakhir kami di Sing,… Jam 08.30 pagi kami sudah mulai berjalan keluar dari hostel dengan tujuan Kampoong Glam. Karena dari hari pertama kami menginjakkan kaki di daerah Bugis ini, belum pernah sekali pun kami mengunjungi Kampoong Glam lagi. Sayang sekali rasanya kalo kami gak menyempatkan diri untuk mengunjungi Sultan Mosque, Kampoong Glam dan sekitarnya… (sangat unik dan menarik). Dimulai dengan berjalan melewati North Bridge road, kemudian melewati Arab street, menyeberangi Haji Lane dan singgah di Kampoong Glam.. sekedar untuk berfoto.

@ North bridge road

Ice cream $1

Kembali ke hostel dengan mampir terlebih dulu di Hawker center Albert street untuk breakfast sekaligus lunch, karena setelah ini kami harus langsung ke bandara. Masih tetap ingin menikmati nasi lemak dengan soya pearl’nya, akhirnya kami memesan menu makan itu kembali, dan Qnan tetap dengan menu ‘noodle’nya.. Keluar dari Hawker center bertemu ice cream uncle,… yipppiieee… akhirnya kami menikmati ice cream $1 dulu!

Kali ini perjalanan dari Albert street menuju bus stop di depan Bugis Street dengan melewati pertokoan di sepanjang Bugis Village, dan kami baru menemukan ternyata banyak resto yang selama ini kami cari2 (Nasi Lemak Qi Ji Restaurant yang katanya uenaaakk bgt…!!) selain itu kami juga menemukan Ah Mei Cafe, yang katanya juga enak untuk beberapa menu dessert-nya. (Walopun Ah Mei Cafe juga sudah pernah aku temukan ada di Jakarta ini) tapi rasanya tetap beda kalo belum sempat merasakan yang ada di negara asalnya.. 🙂

Keluar dari hostel tepat di jam 12 siang waktu Singapore, dengan perkiraan perjalanan menuju Changi memakan waktu -/+ 1.5 jam dengan menggunakan MRT. Akhirnya kami tiba di Changi pukul 13.30 an dan masih harus refund EZLinkCard kami di Ticket Office Terminal 1, setelah itu kami langsung menuju Terminal 2 untuk check in. Masih ada beberapa saat untuk kami menunggu,.. Sambil menunggu, sambil berpikir,….untuk next vacation tujuan mana lagi yaaa,..yg harus kami tuju (walopun, jujur… belum puas rasanya menjelajahi negara kecil ini). See u next time,…

Singapore (Part II-D3)

Hari ini kembali dimulai dengan breakfast di hostel masih dengan menu yang sama (bread, tea & coffee). Jam 9 pagi kami sudah keluar dari hostel, dengan tujuan pertama yaitu Esplanade Theatre. Naik MRT dari Bugis, kami mencoba untuk turun di City Hall dengan melewati mall bawah tanah (Citylink Mall) akhirnya kamipun sampai di Esplanade Theatre. Sangat penasaran dengan gedung yang beratap seperti kulit durian ini, walopun kami berjalan cukup jauh namun akhirnya puas juga karena akhirnya kami tau isi dari gedung ini seperti apa. Karena sebelumnya kami hanya pernah melihat atap gedung ini saat kami ke Merlion Park.

Inilah Esplanade Theatre..

Setelah kami puas berputar di Esplanade, tujuan kami selanjutnya tentu saja Mustafa Centre (kalo ke Sing jgn sampai terlewatkan untuk selalu mampir kesini). Tapi, karena sebelumnya kami belum pernah tau yg namanya Little India sepakatlah kami untuk sekedar mampir ke Little India, toh antara Little India dan Mustafa saling berdekatan. Begitu turun MRT di Little India, kami mengambil jalan keluar ke arah Serangoon road dan begitu keluar dari MRT station langsung ada ‘sign’ yang menunjukkan arah menuju Little India. Baru saja jalan sebentar, mas Bayu langsung mengeluh dengan bau dupa yg sudah mulai tercium dimana2 🙂 tapi rasa penasaran untuk lebih tau daerah Little India yang sesungguhnya juga sangat besar….. Tapi, lama2 enggak kuat juga Mas Bayu mencium bau dupa yang makin lama ngebuat jadi ‘mblenger’ juga, bahkan sampai2 gak lagi bisa tersenyum! Acara foto2 pun akhirnya gak terlalu sukses, karena ‘photographer’ lagi mual! hahahhaaa…. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung saja ke Mustafa Centre. Tujuan kami yang utama apalagi kalo bukan untuk membeli coklat, sisa waktunya kami gunakan just for sight seeing! Kebetulan di luar juga turun hujan cukup deras, membuat kami menghabiskan waktu cukup lama didalamnya. Setelah kecape’an dan Qnan juga sudah mulai rewel, akhirnya keluar lah kami dari Mustafa. Sebelumnya kami mampir makan di Mustafa cafe, dengan menu nasi lemak dengan harga $4 sudah sangat membuat kami kenyang. Karena hujan masih saja turun, dan Qnan juga tertidur akhirnya kami naik taxi untuk pulang dulu ke hostel. Jarak dari Mustafa ke hostel kami memang tidak terlalu jauh, naik taxi pun kami hanya cukup mengeluarkan 3.8$ (walopun tetap saja $4 yg kami bayarkan), heheee…. 🙂

Setelah beristirahat siang, sore hari pun kami melanjutkan perjalanan lagi. Sayang sekali hari itu kota Singapore sangat tidak mendukung, dari siang tadi hujan belum berhenti juga walopun tidak terlalu deras tapi tetap saja mengganggu acara jalan2 kami. Apalagi kami bawa Qnan,.. terbersit rasa takut kalo’ badannya jd anget gara2 kena air hujan. Tapi, akhirnya kami pun tetap pergi yang biasanya kami selalu berjalan kaki ke MRT station Bugis, kali ini kami harus naik bus. Tujuan kami sore itu ke Merlion Park (Qnan yang merengek pengen liat Merlion lagi). Naik MRT turun di Raffless Place, kemudian exit G ke arah Six Battery road.. begitu melihat luar,.. hwwaaaa, tnyata diluar hujan lebih deras dibanding di Bugis tadi!! Menyesal dan kesal rasanya,.. mengingat ini hari terkahir kami bisa jalan2 sore disini. Akhirnya kami putuskan saja untuk kembali ke Bugis, dan jalan2 sepuasnya di Bugis Street. Diakhiri dengan (lagi2) makan malam di Albert Hawker Center dengan menu nasi lemak yang (sangat) enak dengan harga $2.5, dan minuman soya pearl yang cuma $1 rasanya puaaaaaaassss sekaliii,……… kembali ke hostel naik bis, dilanjutkan dengan jalan2 sepanjang North bridge road yg selama 3 hari ini belum sempat kami lewati.

Terimakasih Tuhan, hari ini kami diberikan kelancaran juga kenikmatan dalam perjalanan kali ini…