Last Day @ Pulau Harapan

Pagi ini, Selasa tgl. 26 Agustus 2014 saatnya untuk kembali ke Jakarta. Hiks..hiks.. hiks… 😥 antara rasa senang juga sedih bercampur jadi satu. Yang pasti senang karena kembali ke Jakarta, artinya ketemu lagi sama Qnan anak-ku sayang… disisi lain sedih karena harus menyudahi kedatanganku di pulau ini.

Tepat jam 7 pagi aku sudah keluar dari home stay, dengan beberapa teman kami berjalan menuju pelabuhan. Baru kali ini merasakan jalan-jalan di pulau ini, karena biasanya kami naik sepeda kemana-mana.. 🙂 Saat aku berjalan menuju pelabuhan, memang mau gak mau kami pun harus melewati SD Kelapa 01, tempat aku mengajar kemarin dan tetiba ada yang berteriak “Kak Ambar,… Kak Ambar…” wuidiiihhh berasa orang terkenal saja aku ini.. Ternyata mereka adalah anak-anak kelas yang kemarin sempat aku masuki. 

Sesaat sebelum naik kapal, berfoto-foto dulu sambil ‘nyuntik otak’ diri sendiri bahwa perjalanan naik kapal ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, yang baik-baik saja, gak buat mabok laut dan sampai dengan cepat dan selamat sampai Jakarta. Sampai harus sebegitunya karena memang pengalaman pertama kemarin saat berangkat aku merasakan gak enak banget, mungkin itu yang dibilang mabuk laut.. 🙂
Ternyata, perjalanan pulang ke Jakarta ini sangat nyaman.. Entah karena isi kapal yang eksklusif banget hanya berpenumpang kami dari tim KIJP, entah karena akhirnya aku terbiasa juga dengan perjalanan menggunakan kapal tongkang ini, atau karena pikiranku yang sangat bisa diajak berdamai untuk merasakan perjalanan ini. Yang pasti, perjalanan ini terasa ringan sekali, nyaman banget dan dengan waktu tempuh yang cukup singkat, yaitu 2 jam 15 menit!
IMG20140826073917
Yihaaaaa,… kembali sampai Jakarta dengan selamat.
Terimakasih penuh cinta ❤ ❤ buat mas Bayu yang sudah mengijinkan dan membebaskanku untuk berbuat apapun juga selama itu akan membahagiakan aku,..Merelakan kepergianku di hari istimewanya, hanya Tuhan yang bisa membalas semuanya! I love you,..

Pulau Harapan – day2 #execution day

Yes!! Pagi ini, tgl 25 Agustus 2014 adalah pagi yang kami semua nantikan…… Dimana di hari ini kami akan tebarkan virus kebaikan, menginspirasi anak-anak pulau untuk bisa membangun mimpi setinggi mungkin!! Mereka lah yang akan membawa kemajuan negara kita di kemudian hari, di pundak merekalah nasib bangsa ini bergantung..

Jam 6 pagi kami sudah keluar dari ‘home stay’, tetap menggunakan sepeda yang tanpa rem itu :). Pagi ini kami akan disambut dengan upacara pagi bersama seluruh murid dan guru di SDN Kelapa 01. Suatu pagi yang khidmat…
Suka merinding ih kalo ikutan upacara begitu, menyanyikan lagu Indonesia Raya bareng, hormat bendera, rasanya tuh gimanaaaa gitu,… Selesai upacara, dilanjutkan dengan sambutan dari pihak sekolah, diperkenalkannya kami satu per satu kepada seluruh murid dan guru di sekolah ini.
Oya, perasaan aku kali ini jauh lebih tenang dibandingkan pengalaman mengajar di Kelas Inspirasi lalu, bahkan cenderung ‘flat’ alias gak deg2an sama sekali.. Ntah karena memang sudah punya bayangan kira-kira apa yang akan terjadi di kelas nanti, atau karena aku sangat menikmati berada diantara mereka. Yang pasti, aku merasa sangat tenang.. 🙂

Kelas pertama yang aku masuki adalah kelas IV-B, bertemu dengan murid yang tidak terlalu banyak (-/+ 25 anak saja) semakin membuat aku semakin tenang. Salam yang aku berikan, disambut dengan salam yang sangat luar biasa bersemangat!! Perkenalan dari aku dilanjutkan dengan perkenalan dari semua murid yang ada di kelas itu dan dilakukan dalam suasana yang sangat menyenangkan. Aku melihat mereka adalah anak yang sangat antusias dengan hal baru, sebagian besar murid adalah anak yang sangat berani untuk menjawab apapun juga pertanyaan yang sempat aku lontarkan. Namun, di tengah-tengah serunya bertanya jawab dengan mereka, tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang kebetulan saat itu duduk di barisan paling depan dan aku masih ingat betul nama anak itu adalah Soviyani, berlari keluar kelas dengan terbatuk-batuk. Otomatis semua teman-temannya langsung berteriak-teriak “Kak..Kak Ambar, Soviyani sakit batuk. Kalo batuk keluar darah di mulutnya!” Daaann,… betul saja, begitu Soviyani masuk kembali ke dalam kelas, terlihat bercak darah di krah baju seragamnya. Kamipun melanjutkan tanya jawab, walaupun dalam hati banyak bertanya dan jujur sangat membuatku resah dengan apa yang baru saja terjadi. Saking semangatnya mereka, terkadang mereka harus berteriak-teriak untuk menjawab. Akhirnya 40 menitpun tak terasa sudah terlewat dan akupun harus keluar dari kelas.

Memasuki kelas kedua yaitu kelas I-A,..Hhhhmmmmm…. gak banyak yang bisa aku lakukan di kelas ini, karena selain murid-muridnya yang masih terlampau kecil (agak susah euy nyambungnya) juga dikarenakan tugas aku di kelas ini hanya untuk menggiring mereka keluar kelas untuk “cap tangan” pada selembar kain yang sudah dibentangkan di halaman sekolah. Awalnya agak takjub juga saat menghadapi murid di kelas ini, karena mereka masih banyak yang kesulitan atau bahkan tidak bisa untuk menyebutkan nama lengkapnya. Apalagi saat aku tanya mengenai tanggal, bulan dan tahun lahir mereka. (Please Ambar, jangan menuntut anak pulau seperti anak di Jakarta 😦 )Ya, ya, ya,… aku mengerti.. kenapa mereka kesulitan untuk menyebutkan tanggal, bulan dan tahun lahir mereka, faktor yang utama pasti karena mereka tidak pernah merayakan “hari jadi”nya. Maafkan aku Tuhan, yang sudah tanpa sengaja sempat berpikir lain, betapa naifnya aku…. Hiks 😥

"Cap Tangan"  anak-anak pulau

“Cap Tangan” anak-anak pulau

Berhubung dari awal kami mengajar waktunya sudah mundur, otomatis itupun akhirnya mempengaruhi jam kami masuk ke kelas. Alhasil akupun terlewati untuk memasuki kelas VI-A,.. sedih, karena biasanya di kelas-kelas atas (antara kelas 4 – 6) mereka lebih mudah untuk diajak berkomunikasi. Kalo kelas 1 – 3 itu judulnya kita main, hehehhe..

Dilanjutkan dengan memasuki kelas II-A,… Gleeegg! Takjub dengan ajaibnya kelas ini,.. karena dari awal aku masuk kelas mereka sudah luar biasa tingkah polahnya, ada yan teriak-teriak, dorong-dorongan dan akhirnya ada yang jatuh dan menangis, sebagian lagi dari mereka memukul-mukul lemari sampai akhirnya keluar berbagai macam suara ajaib dari kelas yang ini. Akhirnya akupun mengajak mereka untuk duduk dan berkumpul di depan kelas, tanpa harus mereka duduk di bangku masing-masing, boleh duduk diatas meja, atau di bangku yang semuanya sudah bergeser merapat ke depan. Well… asal semuanya bisa berjalan dengan baik, tentunya 🙂 Belum begitu lama aku bercerita dan berhasil mengumpulkan mereka, salah satu temanku Surya (si top magician) udah nongol-nongol aja di jendela, dan setelah aku tanya ternyata Surya merasa harus memasuki kelas yang sama. OOuughhh,.. dengan senang hati akhirnya aku ajak Surya buat gabung saja di kelas ini ( walopun aslinya sich, gw agak kepayahan uy.. suara udah mulai mbrebettt..) hehehhee….. Asik!! Akhirnya kelas dilanjutkan dengan atraksi sulap!

Kelas terakhir yang aku masuki di hari ini adalah kelas V-B, woooww.. luaaaaarrr biasa! Ternyata di kelas ini aku banyak menemukan anak-anak yang pintar, cerdas dan cukup berwawasan luas serta aktif bertanya dan menjawab. Sangat menemukan “feel” nya di kelas ini.

Hanya saja, dari awal aku memasuki beberapa kelas di sekolah ini, mereka sepertinya terbiasa dengan kekerasan fisik. Ibaratnya kalo gak suka langsung tabok, gak perduli itu perempuan atau laki-laki, agak miris memang.. 😦 Begitu juga kalo aku ingat Soviyani,… Setelah aku cari-cari informasi dari guru di sekolah ini, ternyata merekapun tau dengan kondisi Soviyani yang didiagnosa TBC oleh dokter di Puskesmas, dan menurut keluarganya sudah dibawa untuk berobat. Sangat menyedihkan dibalik cerita Soviyani, ternyata dia hidup dan dibesarkan oleh neneknya karena orang tuanya yang bercerai. Hanya saja aku berharap, si nenek betul-betul mau membawa Soviyani untuk berobat, mengingat diapun tinggal satu rumah dengan adiknya yang masih kecil. Selain diapun harus tetap bisa pergi sekolah dan berkumpul bersama teman-temannya. Justru ada kekhawatiran juga dari aku, bagaimana bisa Soviyani masih dapat berkumpul dan bermain bersama teman-temannya tanpa memakai masker..? Bagaimana kalo teman-temannya justru nanti yang akan tertular, mengingat pulau ini sebuah wilayah yang sangat kecil, bisa jadi penyakit dapat menular dengan mudahnya. Hiks,.. sedih banget!! Jadi bingung sendiri,.. hanya bisa berharap semoga keluarga Soviyani bisa mengobati dirinya hingga sembuh total, hanya bisa berharap semoga ada kesadaran dan kepedulian dari guru-guru di sekolah ini untuk menjaga supaya penyakit Soviyani gak menular ke teman-teman sekelasnya atau bahkan satu sekolah ini, dan satu lagi hanya bisa berharap semoga Tuhan cepat menyembuhkan penyakitnya, Amin……..

Murid Kls IV-A yang selalu ceriaaa.....

Murid Kls IV-A yang selalu ceriaaa…..

10647050_10203846785426785_7780958169815753369_n

Secara keseluruhan, pertemuan aku dengan mereka itu tetap lagi-lagi belum mencapai “FINISH”, melainkan baru di garis “START”.. Sedih, kalo pada akhirnya gak ada satupun yang bisa aku beri untuk mereka.. 😦 Apa ya..? apa..? apa coba..? Akhirnya, hanya bisa berharap semoga pertemuan sehari itu bisa memberikan sedikit saja makna untuk mereka, paling tidak mereka akan mengingat bahwa mereka pernah bertemu dengan orang-orang yang memiliki profesi berbeda dengan yang mereka sering kali temui.. (guru yang setiap hari mengajarinya, dokter yang bisa mereka temui di Puskesmas, atau bahkan nelayan seperti orang tua mereka kebanyakan) Tapi di luar sana ada sebuah profesi seperti seorang Color Matcher, Media Planer, Jurnalis, Technician, Pricing bahkan Pesulap! Dan aku yakin,.. Anak pulau bisa sehebat dan semaju orang daratan. Tidak ada yang membedakan kita, hanya tempat tinggal yang berbeda, tapi semangat untuk selalu menjadi juara itu tetap ada di hati mereka.
SEMANGAAATTTT ANAK PULAUUU……! KALIAN HEBAT DAN LUAARRRRR BIASAAAA……

Bisa diliat yuukk serunya acara itu di http://youtu.be/SWGySXnF2rk