Bapak itu orang yang sangat baik….

“Bapak itu orang yang sangat baik…..” kata-kata itu yang terus terdengar ditelingaku saat orang-orang memelukku untuk mengucapkan salam duka cita. Kata-kata itu tidak terucap hanya dari satu atau dua orang saja, hampir semua pelayat yang datang berkata demikian.

image

Perasaanku saat itu jelas sangat terpukul dengan kepergian Bapak yang tergolong cepat dan tanpa basa basi, mungkin begitu cara Tuhan untuk mengambil Bapak dari sisi kami semua disini…. karena keseharian Bapak juga seperti itu, Bapak itu seorang yang sangat easy going, easy come dan easy go… pokoknya Bapak itu cerminan orang yang sangat jauh dari istilah ‘ribet’. Semuanya sangat sederhana dan selalu terlihat mudah.
Bapak juga terkenal dengan pribadi yang sangat tidak banyak bicara, sabar, selalu ramah dan tersenyum. Pantas saja kalo Bapak justru jadi sangat disegani.
Kata-kata “Bapak itu orang yang sangat baik…. ” semoga menjadi jalan penerang menuju rumah abadinya. Aamiin…….

image

Advertisements

Saat Bapak memilih pulang ke Solo..

Air mata masih terus menetes setiap kali mengingat di hari Selasa pagi tgl. 5 Mei 2015 di ruang ICU itu.. Setelah berjuang kurang lebih satu jam saja, akhirnya Tuhan memilih mengambil Bapak untuk kembali ke Rahmatullah. Innalillahi wainaillaihi roji’un….
Sebelumnya Bapak mengalami sesak nafas, oleh karena itu Ibu pun gak mau menunggu terlalu lama untuk langsung membawa Bapak ke dokter, dan benar saja menurut dokter Bapak memerlukan bedrest selama 3 hari karena terdeteksi mengalami gangguan di jantungnya. Senin tgl. 4 Mei 2015 pukul 08.30 Ibu menelephon aku yang saat itu sudah masuk kerja. Langsung saat itu juga aku sama mas Bayu ijin pulang dari tempat kerja, jemput Qnan dan langsung meluncur ke Subang.
Sampai di Subang aku masih bisa menemui Bapak dalam kondisi yang baik. Bapak masih mau menikmati pemberian chocolate Toblerone mini dari Qnan, oleh-oleh aku dari Singapore beberapa hari sebelumnya. Qnan selalu ingat, chocolate itu kesukaan Yangkung… maka hukumnya wajib untuk dia berbagi chocolate apapun yang dia punya 🙂
Senin malam itu aku berdua Qnan menemani Bapak di ruang rawat inap RS sampai jam 10 malam, karena Ibu hari itu sedang puasa maka sore itu aku sarankan Ibu untuk segera pulang dengan diantar mas Bayu untuk berbuka puasa dan beristirahat. Pasti Ibu sangat lelah karena sudah menemani Bapak dari pagi sampai aku datang tadi. Selama aku menemani Bapak malam itu, semuanya terlihat baik dan normal saja. Aku sempatkan juga buat menyuapi Bapak beberapa sendok bubur, tapi Bapak bilang gak nafsu makan mungkin karena pengaruh sudah diinfus sejak siang tadi. Akhirnya Bapak tertidur pulas sampai dengan aku pulang ke rumah dan digantikan mas Bayu juga Ujang yang bertugas menemani Bapak malam itu.
Sampai keesokan paginya, mas Bayu memberi kabar bahwa kondisi Bapak sempat drop, tensi Bapak tiba-tiba ada di 80/60 ditambah sesak nafas yang cukup berat. Jam 05.30 pagi mas Bayu menelephon kami, dengan suara yang sedikit panik mas Bayu minta aku untuk segera datang ke RS. Akhirnya Ibu yang segera berangkat ke RS, karena aku masih harus menunggu kedatangan mas Anton dari Yogya. Selang 1 jam dari Ibu berangkat ke RS, akhirnya akupun menyusul bersama mas Anton juga Qnan. Saat kami memasuki ruangan, Bapak dalam kondisi tidur (tapi mungkin tidak terlalu nyenyak), sehingga Bapak pun langsung tersenyum menyambut mas Anton dengan bersalaman. Tidak banyak kalimat yang keluar dari mulut Bapak, walaupun tampak nyata Bapak dalam kondisi yang baik-baik saja.
Pagi itu sudah tersedia sarapan buat Bapak, tapi menurut info dari Ibu saat itu Bapak baru saja selesai puasa karena harus diambil darah. Oleh karenanya makanan sarapan pun belum tersentuh oleh Bapak. Beberapa saat kemudian datang beberapa suster untuk laporan penggantian shift dan berdoa bersama untuk kesembuhan Bapak. Setelah itu Ibu minta untuk suster menggantikan baju juga sprei yang Bapak pakai karena sudah terasa basah kuyup, entah oleh keringat yang keluar dari tubuh Bapak atau juga mungkin dari pipis yang merembes melalui diapers yang Bapak gunakan. Sambil menunggu suster datang untuk menggantikan pakaian Bapak, Bapak masih sempat diajak bicara oleh Ibu juga mas Anton. Tiba-tiba Bapak mengingatkan Ibu mengenai biaya perawatan Bapak saat itu dan juga mengenai uang deposito yang Bapak miliki….. Entah saat itu kenapa jantungku langsung berdegup kencang, perasaanku langsung tidak enak, rasanya badanku langsung terasa ringan dan melayang. Padahal cuma gara-gara Bapak bicara seperti itu, feeling-ku pun langsung gak enak.. 😦
Beberapa saat kemudian suster datang untuk menggantikan baju juga sprei yang Bapak pakai. Saat itu pun Bapak masih sempat menanyakan jam tangan yang beliau pakai, kenapa tidak ada..? Langsung aku jawab, ada kok pak.. Mas Bayu yang melepas dan disimpan diatas kulkas. Mungkin karena Bapak terlalu banyak bergerak saat berganti baju, saat itupun langsung Bapak sesak nafas kembali, aku langsung memanggil Ibu juga mas Anton yang sedang berbincang di teras kamar. Langsung saat itu juga, semua berubah menjadi panik. Suster mencoba untuk menggantikan tabung oksigen dengan ukuran yang lebih besar dan entah alat apalagi yang perlu mereka ganti. Berbagai macam pertolongan mereka lakukan, saat itu Bapak beberapa kali muntah. Suasana ruang rawat inap tersebut jadi mendadak sibuk dan panik, terlihat beberapa suster berlarian entah apa yang mereka cari. Aku hanya bisa berdiri terpaku sambil tidak berhentinya mulut ini terus berdoa…
Di dalam ruangan, sudah banyak suster, ada Ibu yang terus memegangi Bapak, Mas Anton, Mas Bayu juga Qnan. Anakku ini tergolong sangat kuat dan sama sekali tidak terlihat takut melihat situasi sepert ini,… justru aku yang sudah sangat lemah, rasanya kakipun tak mampu menopang badanku sendiri namun aku terus berdoa untuk kesembuhan Bapak saat itu,… Bayangan akan ditinggalkan Bapak untuk selamanya mulai sedikit timbul tenggelam dalam pikiranku. Saat itu aku merasakan ketakutan yang luar biasa, berulang kali aku menyebut nama Tuhan.. Badanku mulai melemah, gak ada lagi yang bisa aku pikirkan dengan baik selain hanya mulut tak berhenti berdoa memohon supaya Bapak bisa kembali sehat.
Setelah semuanya sudah tak mungkin lagi dilakukan di ruang rawat inap, akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Bapak ke ruang ICU. Aku hanya bisa mengikuti rombongan itu dari belakang, saat Bapak ditemani ibu, Mas anton juga Mas Bayu memasuki ruang ICU, aku hanya bisa berdiri lemas di depan pintu masuk. Aku menemani Qnan yang masih saja terlihat bingung, beberapa kali dia bertanya “Ibu, YangKung kenapa…?” terlontar juga dari mulut Qnan saat itu, “Inan bingung, kenapa ibu terus menangis..?” tapi saat itu tak ada satu katapun yang bisa aku jawab dari pertanyaan Qnan tersebut. Aku hanya merasakan air mata terus mengalir di pipiku, hidungkupun terasa mampet, kepalaku pun terasa semakin berat. Tuhan,… apa yang akan terjadi di Bapak hari ini..?
Setelah -/+ 1 jam aku menunggu diluar dengan perasaan yang tidak menentu, akhirnya Mas Bayu meminta aku untuk masuk ke ruang ICU, begitu juga Mas Anton meminta aku untuk segera menemui Bapak. Saat itu juga tangisku pecah, sudah bukan lagi airmata yang menetes… aku mulai merasa semua terasa gelap, aku tau maksud dari mereka memintaku untuk menemui Bapak. Bapak sedang dalam sakratul maut dan aku diminta untuk memaafkan dan minta maaf ke Bapak… Tapi apa yang terjadi..? Masih saja aku tak sanggup untuk melakukannya, melihat Bapak dalam kondisi seperti itu membuat aku sangat tidak tega untuk mendekatinya.
Akhirnya tepat pukul 09.40 WIB dokter yang menangani Bapak pun menyatakan bahwa Bapak sudah meninggalkan kita semua,… Innalillahi wainailahhi rojiun… Kami semua ikhlas Bapak pergi, walaupun terasa sangat cepat. Dalam waktu yang sangat singkat pula ibu memutuskan untuk membawa jenazah Bapak ke Solo untuk dimakamkan disana. Semua teman, sahabat juga tetangga di sekitar rumah Bapak pun langsung turun tangan untuk membantu proses pemberangkatan jenazah, semua terasa mudah dan lancar sampai keberangkatan kami siang itu ke Solo.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya Ibu bercerita tentang Bapak, salah satunya tentang Bapak beberapa waktu lalu sebelum operasi hernia di RS Medistra Jakarta. Ceritanya Ibu sempat bertanya, “Nanti setelah operasi, maunya kita jalan-jalan kemana? Mau ke Bali atau pergi Umroh?” dan Bapak menjawab, “Mau ke Solo”. Pertanyaan itu Ibu ajukan beberapa kali dan selalu Bapak menjawab sama “Mau ke Solo”. Ternyata hari itulah Selasa, tgl. 5 Mei 2015 kami semua mengantarkan Bapak untuk pulang ke Solo….
Kami semua sayang Bapak dan kami semua sangat mengagumi sikap dan perilaku Bapak selama hidupnya.
Semoga Allah SWT memberikan jalan terang untuk Bapak,… Aamiin…….

1431235173123

Happy Milad, dear Bapak…..

Tepat hari ini Bapak berulang tahun dan Alhamdulillah masih diberikan kesehatan yang luar biasa.
Bapakku ini dimata aku anak bontotnya tergolong orang yang luar biasa.
Banyak hal yang bisa dianggap luar biasa dari sosok beliau.
Sampai dengan hari ini masih punya kebiasaan untuk tidak pernah melewatkan membaca surat kabar KOMPAS di pagi hari dan akan memegang KOMPAS lebih lama di hari Minggu karena sambil mengisi TTS 🙂
Sampai dengan hari ini juga masih disibukkan dengan pasien-pasiennya yang masih juga mau untuk datang berobat ke dokter sepuh ini, padahal diluar sana sudah banyak sekali dokter muda yang bertebaran dengan membuka praktek sampai pelosok desa.
Kalo mengenang Bapak duluuuuu pas saat aku masih kecil,.. beliau ini tergolong Bapak yang suka membuat kejutan. Tiba-tiba datang dari Bandung dengan membawa alat musik organ baru. Padahal gak ada satu orangpun di rumah ini yang bisa memainkannya. Itu semua karena apa..? Karena Bapak sudah menyiapkan guru les organ yang khusus didatangkan dari Jakarta seminggu sekali untuk mengajari kami bermain organ. Termasuk kakak laki-lakiku yang belajar bermain gitar gara-gara Bapak juga, yang akhirnya saat ini mas ku justru terjerumus total ke dunia musik, walaupun masku ini seorang Arsitek tapi justru saat ini punya sekolah musik di Yogyakarta. Pernah juga tetiba membeli satu set panci yang seingat aku harganya sangat mahal untuk ukuran tahun 80-an, katanya sich panci buatan Amerika. Ibuku bukannya senang tapi malah justru marah-marah karena tau harga panci yang begitu mahal,.. tapi beberapa bulan setelah itu bahkan sampai dengan hari inipun panci itu justru jadi panci kesayangan ibuku 🙂 Teryata memang kejutan-kejutannya gak pernah salah..
Begitu juga dengan hobby-nya jalan-jalan,…. Bapak ini hobby sekali jalan-jalan. Walaupun kami tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Barat yang berjarak -/+ 134km dari Jakarta, tapi untuk urusan semua obyek wisata plus museum juga tempat-tempat bersejarah yang ada di Jakarta ini aku sudah pernah mengunjunginya. Padahal belum tentu anak yang lahir, tinggal dan dibesarkan di kota Jakarta ini justru pernah menyambanginya 🙂 Bapak memang luar biasa!! Gak mau anak-anaknya hanya terkungkung di sebuah kota kecil di era tahun 80-an menjadi anak yang kurang pergaulannya. Sehingga kami punya kebiasaan setiap hari Minggu untuk pergi ke Jakarta hanya untuk berwisata. Entah itu hanya ke Lubang Buaya, museum Fatahillah, TMII, museum Adam Malik, museum Ahmad Yani atau pergi ke Ancol. Aku yakin tidak ada satu tempat wisata dan tempat bersejarah yang terlewatkan, aku yakin itu!

Happy Milad, dear Bapak <3

Happy Milad, dear Bapak ❤


Bapak juga tergolong orang yang sangat suka membaca dan itu jelas menurun kepada kami anak dan cucu-cucunya. Merupakan hal yang rutin untuk kami berbelanja buku di Toko buku Gunung Agung di daerah Kwitang Jakarta Pusat, dan alhamdulillah sampai hari ini buku-buku cerita yang dulu pernah aku beli masih terawat dengan baik dan sekarang pun jadi bacaannya Qnan di waktu luang.
Kalo cerita tentang Bapak dan kebiasaan-kebiasaannya sich jelas panjang banget….
Oiya, kebiasaan Bapak yang sampai sekarang masih berlaku itu Bapak suka sekali makan enak. Segala jenis makanan yang mengandung keju, susu juga durian itu adalah favorit Bapak banget! Sebetulnya ibu sangat khawatir dengan kebiasaan makan Bapak yang sepertinya tidak mengenal pantang. Tapi, kalo semua makanan itu dinikmati dengan penuh syukur rasanya semua makanan itu akan baik-baik saja masuk ke dalam tubuh Bapak. Bapak juga sangat hobby olahraga tennis, bahkan olahraga tennis ini baru Bapak tinggalkan beberapa tahun belakangan ini.. Mungkin kira-kira baru 2 tahun lalu Bapak sudah gak aktif bermain tennis.
Bapak adalah eyang kakung yang tidak banyak bicara sama cucu-cucunya, tapi suka melipir pergi berdua sama Qnan untuk beli ice cream ataupun coklat. Hampir tidak pernah bisa menolak permintaan dari cucu-cucunya… Kalo ada permintaan dari cucunya, selalu senyuman ataupun anggukan yang diberikannya.
Semoga di ulang tahun ini Bapak selalu diberikan kesehatan juga umur yang bermanfaat.. Aamiin..