Ngangkot ohh… Ngangkot….

Ini cerita betul-betul curhatan dari aku, seorang pengguna public transport yang ada di Jakarta. Kalo dihitung-hitung, mungkin aku setia menjadi pengguna public transport di Jakarta ini kurang lebih selama 8 thn. Karena baru 2 tahun belakang ini Tuhan memberikan jalan juga anugerah yang terbaik buat aku dan mas Bayu, dengan ditempatkannya kami di satu gedung perkantoran 🙂 yang sebelum2nya tidak pernah terlintas, apalagi terbayang di pikiran kami.

Dulu…awal-awal bekerja di Jakarta, aku tinggal di daerah Karet Setiabudi. Otomatis untuk pergi ke kantor yang terletak di daerah Pancoran aku harus naik angkot sebanyak 2 kali, gak terlalu jauh sich… cuma terkadang macetnya itu lho yang gak nahan. Apalagi arah pulang dari kantor ke Karet, beeuuuhhh…kalo lagi apes bisa sampe 2 jam tuh!

Nah, saat ini yang aku mau bahas disini adalaaaaahhh….rasanya kita naik public transport di Jakarta ini mulai dari angkot, metromini, bus kota, bus transjakarta (yang kata orang juga nyaman,..) semuanya tetap punya cerita sendiri-sendiri. Dari dulu yang paling sering aku gunakan sich ya angkot, metromini sama bus kota. Alhamdulillah gak pernah jadi Anker (alias Anak Kereta)

PERTAMA, kalo naik angkot itu seringnya supir angkot ugal-ugalan berasa dia bawa karung beras aja kali ya penumpang yang duduk di belakang ini.. Terkadang sampai berpikir, masa’ iya sich aku harus pertaruhkan nyawaku juga buat berangkat kerja hanya karena naik angkot yang ugal-ugalan begini. Alhamdulillah, gak pernah ketemu orang yang berniat jahat di dalam angkot (amit-amit jangan sampai!) tapi ya itu dia, seringnya berasa mau dibawa mati aja sama supir angkot yang ajegile bawa mobilnya, rrgghh….

KEDUA, kalo aku naik metromini seringnya ketemu sama gerombolan copet yang kaya’nya mereka gerombolan copet yang ndak tau malu (yaiyalah, emang ada gitu copet yang tau malu). Kenapa aku sebut mereka gak tau malu..? Karena terkadang mereka kepergok sama orang tapi ya lurus aja, biasanya trik-nya langsung turun atau bergeser duduk, dan besok2 lagi ya tetep aja ketemu sama gerombolan copet yang itu2 lagi… Kita aja penumpang metromini bosan lihat mereka tapi kok mereka gak bosan2nya liat kita..? 😀 hihihii… Naik metromini ini juga gak beda jauh seperti yang aku rasakan kalo naik angkot, supir metromini sama ugal-ugalannya.

KETIGA, beberapa waktu (-/+ 1tahun) sempat merasakan jadi pelanggan setia bus Damri jurusan Kalideres, hehe… 🙂 karena kantor yang sempat berpindah ke daerah Daan Mogot. Untung itu cuma 1 thn saja,.. Kalo naik bus Damri ini kita harus ngapalin jam nya, telat 5 menit saja lewatlah sudah dan alhasil terlambat sampai kantor (ini sudah biasa aku alami). Naik bus Damri ini juga banyak lucunya, penumpang dipadatkan sampai kaya’ pepes, gak ada lagi celah buat kita bisa bergerak.

Baru-baru ini (setelah sekian lama gak pernah lagi naik bus jarak jauh), ceritanya lagi mau janjian sama teman di daerah Slipi. Aku pikir karena dalam kondisi santai dan gak terburu-buru akhirnya aku putuskan naik bus Trans Jakarta dari halte RS Harapan Bunda, terus turun di Cawang. Dapat info dari salah satu kawan kalo kita bisa lanjutkan pakai bus APTB yang ke arah Grogol dengan bayar 5 ribu. Aku ikuti dong sarannya itu,… pas begitu dapat bus APTB naiklah aku dan bayar 5 ribu, aku pikir juga gak rugi lah karena kita bisa duduk tenang. Eeeehhhh dan ternyata tidak diduga-duga, karena dengan alasan jalanan yang macet di depan Gedung MPR, yang seharusnya bus tetap berjalan di jalur busway, ini bus malah dengan gagahnya masuk tol dan eng ing eng……. diturunkanlah kami yang tujuan Slipi di tengah jalan tol! Karena bus itu lanjut keluar Grogol. GILA!!! cuma satu kata itu yang ada di otakku,.. Bagaimana tidak?? Aku dan penumpang lainnya harus jalan kaki di pinggir jalan tol melawan arus sampai gerbang tol. Ini sich namanya “gw bunuh diri….” Rrrrgghhh… benar2 gak habis fikir deh dengan kelakuan-kelakuannya para supir ini. Tapi kok kaya’nya itu dianggap wajar ya..? #semakin buat bingung…..

Pada akhirnya siapa yang mau menggunakan public transport di Jakarta ini, ya taruhannya nyawa…. hiks 😦 SEPARAH ITU KAH..??

Ibu – Qnan

Kalau wajah anak mirip ibu atau ayahnya itu sebetulnya suatu hal yang sangat wajar,.. bagaimana tidak kalo anak setiap kali bertemu, berbicara, dan bercanda dengan kita sebagai orang tuanya. Mau tidak mau dari cara tertawa, bicara dan mungkin marahnya pun akan menyerupai salah satu dari kita orang tuanya. Kalo gak mirip ayahnya ya pasti mirip ibunya… 😀
Qnan itu sering sekali dibilang orang yang melihatnya pasti mirip aku, ibunya. Apalagi kalo orang itu adalah orang yang tau masa kecilku juga, pasti dibilangnya Qnan itu duplikat Ambar kecil.
Sedikit cerita di siang hari, saat ada acara di kelas Qnan :
Aku dan Qnan berdiri bersebelahan, tiba-tiba dihampirilah kami oleh salah satu teman Qnan yang bernama Dhea.
Dhea : Ih,…. Qnan kok sama sich..??
Aku : Oh iya ya, tinggi Qnan hampir sama ya dengan Tante (PD banget gw.. 😀
Dhea : Bukaaaaaannnn,…. tapi kok Qnan mukanya miriiiipp banget sich sama mamanya!
Aku : Terbengong-bengong, ngakak, dilanjut bilang “Oh iya ya, Qnan mukanya mirip tante ya..? Qnan kan anaknya tante….” (masih kegelian dengan komentar polosnya Dhea)

Setelah itu aku berpindah ngobrol dengan salah satu mama dari teman Qnan (mama Radhi) yang didampingi sama adeknya Radhi. Lagi tengah seru-serunya kami bertukar cerita, tiba-tiba adeknya Radhi bisikin mamanya dan sontak pula mamanya Radhi tertawa. And you know what apa yang dibisikkan adeknya Radhi ke mamanya..??
” Ma,… muka mamanya kakak Qnan kok mirip banget sich sama kakak Qnan?”
Wakakakkkaaakk… kembali harus tertawa kegelian dengan komentar polosnya itu.

Dan masih banyak cerita-cerita lain tentang komentar kemiripan kami ber-2.
Wajarlah karena kami ibu dan anak 🙂 banyak hal kesamaan yang kami ber-2 miliki.
Yaaah, andai merekapun tau… gaya ngambeknya kami ber-2 pun bisa dibilang sama! (kalo ini komentar yang hanya keluar dari mulut ayah Qnan) 😀

Apa kesamaannya yaa..?

Apa kesamaannya yaa..?

Singapore yang India #latepost-day2

Hooaaaaammm…….. pagi ini bangun kesiangan, jam 6 pagi waktu Singapore baru terbangun! Baru kali ini menginap di hostel yang kamar mandinya di luar kamar alias sharing bathroom dan itu jelas membuat aku semakin malas bangun dari tempat tidur, hehehhee…. 😀 Begitu melek, pastinya ngobrol sana sini dulu lah dengan teman tidurku ini. Apalagi temanku ini adalah “soulmate” aku banget di tempat kerja, tapi karena sejak 3 tahun ini dia ditempatkan di Batam jadi selama ini acara pergosipan hanya bisa kami lakukan by phone. Acara main bareng begini jadi ajang pergosipan yang seru juga menyenangkan sekali…..!! Sandra, you’re still is my best friend 🙂 ❤ ❤

Ternyata, gosip sana sini gak terasa waktu sudah semakin siang akhirnya kami putuskan untuk pergi turun ke lantai dasar dulu buat breakfast.. Wuiih, ternyata breakfast di hostel 1 ini terasa berbeda,… Ada roti, boleh dipanggang atau enggak, ada telur rebus dan ada pisang … hahahhaa ini lah yang paling enak! Belum lagi minumannya yang tersedia juga bermacam2, mulai dari juice, teh, susu, teh tareek walaupun semua dalam bentuk instant.

Breakfast..

Breakfast..

Selesai breakfast, kembali ke kamar mau bersiap mandi begitu lihat keluar jendela, hwaaaaa…. hujan turun dengan derasnya. Yah, gagal deh rencana mau berfoto-foto ke Merlion. Begitu selesai mandi dan beberes semuanya, akhirya nekat keluar hostel dengan dengan hujan yang rintik cenderung hampir terang sich… Akhirnya lanjut jalan tetap ke Merlion, naik MRT lanjut saat mau keluar ke Six Battery rd hujan kembali datang dengan lucunya, akhirnya ya berputar arah lanjut ke Lucky Plaza. Putar2 di Lucky Plaza tadinya mau lanjut makan siang disitu tapi akhirnya kami putuskan untuk ke Bugis street saja walaupun diluar sana hujan masih saja turun dengan cantiknya. Selesai mereka belanja (aku sebut mereka, karena aku sama sekali gak belanja dan 1-1nya barang yang aku beli di Bugis street itu payung!) hahahahaha….. 😀 kebetulan butuh beli payung dan kebetulan juga saat itu hujan gak ada berhentinya.

Akhirnya kami makan di hawker center Albert street, nyebrang dari Bugis Street tetap dengan kehujanan perut sudah minta diisi banget nih! Sebetulnya banyak yang pengen aku makan disitu, pengen Yong Taufu, pengen nasi lemaknya juga, tapi juga pengen chicken rice. Akhirnya pilihan jatuh di chicken rice..

Chicken rice

Chicken rice

Oya, hari ini juga kali pertama aku datang ke Harbourfront Singapore, itupun gegara aku harus antar Sandra yang mau balik Batam. Wuuiih keren juga ternyata Harbourfront ini..Selama ini bolak balik ke Sing, bolak balik ke Vivo City juga tapi gak pernah terpikir buat sekedar melihat Harbourfront ini. Kesempatan kali ini datang tanpa sengaja. Oiyaaaa…… saat jalan-jalan di Vivo City, tanpa sengaja juga ketemu dengan toko candy dan teryata juga jual Ovomaltine selai roti. Yippiee.. senengnya gak karuan, karena kebetulan di Jakarta ini aku susah banget buat ngedapetinnya, sekali ada pun harganya lumayan mahal. 1 jar yang biasa dijual di Jakarta sekitar 180 ribu, disitu aku bisa dapat dengan harga $10.5 Sing saja,..ih rasanya pengen borong banyak2 deh, tapi sayangnya pembelian pun dibatasi per customer hanya 2 jar saja.
Seru, seru, seru,…. Justru sisa waktu jalan2 berdua ku dengan Sandra ini jadi terasa seru banget!
Next trip, semoga bisa ketemuan lagi di Sing ya Cha,…
Udah ah, gak ada yang seru lagi yang bisa diceritakan disini.
Karena besok pagi sudah harus kembali ke Jakarta. See you..!

Singapore yang India #latepost-day1

Tgl. 17 -19 Mei 2014 ini, kembali aku menyusuri Singapore dengan beberapa teman kantor. Berangkat di hari Sabtu pagi, kira2 jam 8 pagi sudah take off dari Bandara Soekarno Hatta, tiba di Sing kira2 pukul 11 siang. Termasuk sangat lancar.. Hanya saja, seperti biasanya (ini sudah kali ke-2) teman kami ada yang sedikit terhambat di bagian Imigration Changi hanya gara2 nama yang terlalu pendek, hahahhaa… 😀 ternyata nama yang terlalu singkat pun akan menjadi masalah saat kita bertemu orang-orang di bagian imigrasi yaa..

Dari Changi, seperti biasanya juga kami naik MRT kali ini tujuan kami adalah daerah Little India. Kalo tempat ini jujur saja bukan daerah jajahanku, jadi agak2 gugup juga. Daerah Little India selama ini yang aku tau hanya Serangoon Plaza dan Mustafa Centre (standard banget bukan..??) Tapi kali ini memang kami sengaja memilih tempat menginap di daerah yang sebelumnya belum pernah kami singgahi. Naik MRT dari Changi, kami turun di Farrer Park exit G, ketemu Serangoon rd.. Awalnya agak bingung jalan ke arah hostel kami, kebetulan ada 2 hotel yang kami pesan. Untuk Claremont Hotel ternyata deket banget dari MRT station ini, begitu exit G belok kanan jalan sedikit saja sudah sampailah kita di hotel ini. Tapi untuk kita bisa sampai di Mitra Inn (hostel backpacker)tempat kita menginap yang lain, itu ternyata cukup jauh… Tapi ya masih bisa dibilang nyaman lah, karena memang berjalan kaki di Sing itu bagi aku sangat menyenangkan! 🙂

Hari pertama, tujuan kami hanya ke Sentosa Island, malamnya dilanjut jalan2 di Mustafa sekalian makan malam. Jujur saja, tidak ada yang terlalu istimewa di Mustafa Center ini, hanya karena temani salah satu kawan yang sedang mencari sesuatu akhirnya putar2 juga dari lantai 1 – 3. Oya, kami makan malam di salah satu restaurant India dengan menu yang India banget.. Kami ber 3 semua memesan Roti Prata dengan rasa yang berbeda, ditambah ayam yang dibumbu merah menyala (gak tau namanya) juga nasi goreng yang rasa rempahnya India banget! Dan 1 yang tidak mungkin terlupa dan terlewat, teh tareek. Semuanya enak..! Apalagi ditraktir pulak, thanks alot! (big hug..) Ini dia gambarnya..

Teh Tareek-nya ueenaak bangets!

Teh Tareek-nya ueenaak bangets!

Roti Prata bumbu kari

Roti Prata bumbu kari

Kenyang makan, lanjut jalan setelah itu balik hotel nongkrong di hotel. Sepertinya justru suasana ngobrol di depan hotel yang cukup ramai dengan tetap dipenuhi aroma dupa membawa kita serasa ada di negara India, bukan d Singapore.. 🙂
Malam ini ditutup dengan minum juice, terasa segar, balik badan pulang kamar deeehh….
Masih ada besok pagi buat kita kembali jalan2..