Tenggarong – Kampung Pampang

Saat bekerja sekaligus berlibur ke Samarinda enggak mungkin banget kalo sampai kami melewatkan jalan2 ke Tenggarong. Perjalanan dari Samarinda kota ke Tenggarong perlu waktu +/- 1 jam saja, keliling di kota Tenggarong jelas bukan hal yang sulit buat kami yang biasa tinggal di Jakarta (lha wong kotanya ya cuma segitu ajaa..) Kota Tenggarong termasuk kota yang bersih dan tertata apik, enak banget deh ngeliatnya…. 🙂

Sudut kota Tenggarong..

Tujuan ke Tenggarong apalagi kalo bukan Istana Kerajaan Kutai Kertanegara tempatnya mudah dicari karena memang di tengah kota. Karena kebetulan kami jalan di hari Minggu jadi ya memang agak ramai pengunjung,tapi gak terlalu mengganggu juga kok.. Kami masih bisa menikmati jalan2 melihat isi Istana dengan nyaman. Selesai jalan2 di sekitar istana, kami coba menyeberang krn katanya disitu ada resto yang jual seafood enak bgt!! Ternyata memang betul, itu resto penuh orang,.. Karena saat itu bawa Qnan yang masih berumur kurang 2 tahun, jadi cari makannya pun yang simpel aja, coba dikasih patin goreng kok ternyata lahap bukan main! Disitu aku baru tau, kalo ikan patin di daerah sana memang termasuk ikan yang paling banyak dihasilkan. Harganya gak terlalu mahal, tp rasa ikannya enak banget agak lain dengan patin yang pernah aku rasain di Jakarta, karena yang aku makan di Tenggarong lebih  penuh lemak.. hmmmm, so pasti yummy!

Istana Kerajaan Kutai Kartanegara

Puas berkeliling di Tenggarong, kami langsung meluncur ke Kampung Pampang. Kampung Pampang berlokasi di Sungai Siring, kota Samarinda. Kampung Pampang merupakan desa budaya, jadi memang betul masih terlihat kehidupan aslinya suku Dayak yang tinggal di kampung itu. Tujuannya kami langsung ke rumah adat Dayak di Kampung Pampang, yang katanya suka menampilkan pertunjukan di hari tertentu dan jam tertentu. Setelah kami turun dari mobil, dan coba masuk ke rumah panggung itu ternyata, baru saja pertunjukan selesai….. 😦 setelah kami coba tanya2 orang yang ada disitu, ternyata jam 3 sore pertunjukan selesai. Tapi masih terlihat, penjual2 kerajinan yang sedang membereskan ‘lapak’nya,.. eeehh tiba2 ada beberapa anak kecil penduduk asli yang mendekati dan menawarkan untuk berfoto bersama, dengan mereka menggunakan kostum adat. Tertarik juga mendengar tawaran mereka, tanpa banyak tanya akhirnya mereka pun bergegas berganti kostum dan mengajak kami untuk berpose… Setelah asik berfoto, seperti biasanya kami pun (tanpa diminta) langsung memberikan uang tip sebesar 20 ribu rupiah,ternyata oh..ternyata…. mereka gak mau terima, dengan alasan kami berfoto beberapa kali.  Dengan bahasanya mereka, mereka bilang “seketek 20 ribu, tadi ada 4 ketek berarti 20ribu x 4!” Weeeekksssss,……… langsung kami semua pada bengong, untung saja ada kakak ipar yang memang sudah cukup lama tinggal di Samarinda, jadi sedikit mengerti lah bahasa mereka. Setelah tawar menawar akhirnya,…..deal, kami menambah 20ribu saja untuk beberapa anak itu! Total 40ribu, biaya kami berfoto bersama mereka 😉

Berlatih menari

Qnan dan ‘kakak Dayak’

Nice trip in Borneo,.. someday we meet again in another place!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s